Colleger Creativity Program “HEART CAMPUS HEALING, Unit Kegiatan Mahasiswa Yang Meminimalisir Gangguan Psikis Mahasiswa Melalui Pendampingan dan Empowering Bersama Psikolog Kampus”

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang Masalah

 

Munculnya rasa cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang sangat lumrah, dan terjadi di hampir setiap orang khususnya remaja yang notabenenya merupakan masa-masa penentuan identitas diri sekaligus masa-masa labil manusia. Pada tahap perkembangan dewasa awal ini, individu mulai membentuk hubungan intim dengan lawan jenisnya yang salah satu bentuknya adalah hubungan cinta. Para mahasiswa/i yang sedang menuntut ilmu diperguruan tinggi adalah salah satu contohnya. Penelitian tentang cinta juga lebih banyak menggunakan mahasiswa sebagai subjek penelitiannya (brigham, 1986, brehm1992, santrock, 1999, taylor dkk, 2000)

Cinta diyakini sebagai salah satu bentuk emosi yang sangat penting bagi manusia sehingga hampir semua individu pernah mengalami jatuh cinta (Roodiger dkk, 1987). Walaupun demikian pengalaman masing-masing individu ini tentu saja berbeda-beda (Rosyadi, 2000). Mencermati efek-efek dari fenomena tersebut maka muncullah gagasan untuk memaksimalkan efek positif dari fenomena tersebut dan meminimalisir efek negatif yang sering kali terjadi pada mahasiswa.

Jika kita berbicara mengenai tingkat subjektivitas dari cinta, akan mengundang  jawaban yang beraneka ragam dari setiap responden, namun secara lahiriah keberadaan cinta secara tidak langsung mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik, lebih positif, lebih religius, dan lebih bersemangat untuk unggul disatu bidangnya. Seiring dengan keberadaan efek positif, efek negatif juga turut dialami jika seseorang mengalami disconection dengan perasaannya, perasaan gelisah, putus asa, dan kesepian tak jarang melanda pikiran para mahasiswa sehingga pada akhirnya menurunkan kualitas mahasiswa itu sendiri dalam prestasi kompetitif mahasiswa.

Melihat dari efek positif dan negatif kondisi cinta seorang mahasiswa/i, seringkali menuntun mereka pada hal-hal negatif yang berujung depresi, lebih-lebih menyangkut permasalahan pribadi cinta mereka, seringkali mahasiswa terlena dan tanpa sengaja memberi citra dan realitas negatif pada kehidupan mahasiswa sendiri.

Sebuah gagasan mengenai Heart Campus Healing, sebuah unit kegiatan  kampus yang bukan sekedar perkumpulan mahasiswa yang satu visi mengenai cinta, melainkan suatu wadah bagi siapa saja mahasiswa yang memiliki kepentingan dan membutuhkan solusi serta pelarian rasa sakitnya dari kenyataan yang ada melalui metode pendampingan dan empowering oleh psikolog muda lokal universitas sebagai implementasi ilmunya secara nyata dengan berbagi kepada sesama mahasiswa yang membutuhkan suntikan, wejangan, dan masukan mengenai permasalahan cinta pribadi.

Pada keberlanjutan kegiatan HCH ini, para volunteer atau pihak konsultan yang berasal dari mahasiswa psikologi, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para mahasiswa yang membutuhkan pendampingan untuk memahami persoalan mereka masing-masing berkaitan dengan persoalan asmara. Pendampingan disini bukan berarti kita hanya sekedar mengeluarkan argumen untuk menanggapi kendala mahasiswa, namun saling memahami dari kacamata mahasiswa yakni para psikolog muda yang memang masih aktif dalam perkuliahan, 1 point sebagai nilai dari metode ini, bahwasanya seseorang akan lebih mudah menerima argumen konsultor saat mereka melihat si psikolog (konsultor) berada pada jenjang umur yang sama. Tidak berhenti pada share solution, keberadaan empowering diharapkan mampu menjadi pemicu mahasiswa sesuai bidangnya, dengan pembimbingan penuangan karya.

Tujuan dan Manfaat

 

Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan solusi pada permasalahan psikis mahasiswa selama ini yang tidak pernah tersentuh sama sekali oleh program pemberdayaan semangat, motivasi mahasiswa baik yang sedang merasakan maupun terluka psikisnya oleh persoalan asmara yang dapat diterapkan dalam rangka meningkatkan kualitas diri mahasiswa supaya lebih terpacu untuk semakin berprestasi dan kreatif bukan hanya sekedar dalam peningkatan nilai indeks prestasi melainkan dalam kegiatan-kegiatan positif mahasiswa.

Metode Penulisan

 

Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka atau studi literatur yang dilakukan dengan cara mempelajari literatur-literatur terkait seperti buku referensi, surat kabar, jurnal ilmiah dan artikel-artikel di media internet. Data dan informasi yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif, serta dikombinasikan dan disesuaikan terkait permasalahan utama yang diangkat sehingga dari hasil pengolahan data dan informasi tersebut dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah.

GAGASAN

Fenomena Cinta Mahasiswa dan Dampaknya Yang Fatal

Masa bangku kuliah bukan hanya terdiri dari masa-masa penuh kreativitas, masa kesibukan dengan berbagai kegiatan, dan masa pengayaan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan semata, fenomena cinta remaja pada masa kuliah juga turut memenuhi daftar kesibukan mahasiswa khususnya mahasiswa di Indonesia, pernyataan diatas bukanlah sekedar isu belaka karena menurut penelitian, selain penyesuaian dengan masalah pendidikan yang dihadapinya, mahasiswa/mahasiswi yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal tetap  saja mempunyai masalah dalam hubungannya sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial mereka mengalami apa yang disebut dengan perkembangan psikososial, yang salah satunya adlah membentuk hubungan intim dengan lawan jenis melalui hubungan cinta (Papalia, 2000)

Selayaknya seperti fenomena kejiwaan yang lain pada manusia, maka perkembangan kondisi yang demikian juga membutuhkan sebuah pendampingan dan pengayoman, seperti yang kita ketahui bahwa masalah kejiwaan tidak bisa kita lihat sebagai sesuatu yang statis dan teknis, namun membutuhkan pendampingan yang bersifat immateril.  Berangkat dari kondisi yang demikian, seringkali kita temui kenyataan bahwa dengan bertumbuhnya kondisi psikososial seorang mahasiswa/i pada dewasa awal nyatanya tidak dibarengi dengan pertumbuhan yang positif dari segi prestasi dan kegiatan perkuliahannya, seperti saat apa yang diharapkan mengenai kehidupan cintanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, kebanyakan remaja khususnya para mahasiswa/i cenderung merasa lemah dan terpuruk dan berdampak mempengaruhi semangat berprestasi dan kinerja perkuliahannya.

Kondisi yang demikian nyatanya bisa berdampak lebih buruk lagi dan seringkali menjurus ke tindakan yang diluar batas akibat perasaan emosionalnya yang sedang tidak stabil. Seperti kasus yang terjadi pada november 2012 kemarin, pemberitaan di koran Tempo, Jakarta, Adiguna Yuwono alias Guna, seorang mahasiswa berusia 22 tahun ditemukan tewas tergantung di rumahnya yang beralamat di Perum BCS, Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara, yang dianulir penyebabnya adalah masalah asmara. Lalu pada 29 november 2011 kemarin dalam pemberitaan portal berita Riau terkini, kasus percobaan bunuh diri juga dilakukan mahasiswi perguruan tinggi di Bengkalis yang berusia 19 tahun yang dengan sengaja menyeburkan diri ke Selat Bengkalis, persisnya di pelabuhan material diduga dipicu persoalan asmara, dan masih banyak lagi dampak emosional kejiwaan mahasiswa/i yang belum dewasa menghadapi persoalan diatas.

Selain kasus-kasus percobaan pembunuhan diri, gangguan psikis lain akan memperburuk kualitas mahasiswa/i secara jangka lama. Seperti yang dikutip dari life  show “Wolipop” yang mengangkat tema mengenai fenomena mahasiswa yang drop pasca patah hati edisi jum’at 15 juni 2012, seorang mahasiswi bahkan harus mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit selama berhari-hari karena merasa kesepian dan lemah pasca patah hati, hal serupa juga terjadi pada seorang mahasiswi bernama Vira (22 tahun) yang nekat melukai hampir sekujur tangannya menggunakan silet pasca mengetahui pasangannya berselingkuh. Kondisi yang demikian menunjukkan bahwasanya masih banyak mahasiswa/i yang memerlukan dampingan, dan tempat berbagi yang tepat dan dapat memberikan solusi sekaligus memberikan pemberdayaan bagi mereka yang patah semangat. Wadah pendampingan menjadi penting, manakala seorang mahasiswa/i yang tengah mendapatkan tekanan kejiwaan harus bergulat dan berjuang menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi dan membutuhkan teman sekaligus terapi psikis sebagai awal penyegaran psikisnya.

Penelitian lain di luar Indonesia juga menyebutkan bahwa angka percobaan bunuh diri mahasiswa masih tergolong tinggi. Lebih dari setengah populasi mahasiswa berjumlah 26.000 dari 70 perguruan tinggi Amerika Serikat yang menyelesaikan survei mengenai pengalaman bunuh diri, telah melaporkan bahwa mereka pernah memikirkan untuk bunuh diri, paling tidak sekali dalam hidup mereka. Lebih jauh, 15 persen dari mahasiswa yang disurvei telah memikirkan secara serius untuk bunuh diri, dan lebih dari 5 persen pernah melakukan percobaan bunuh diri paling tidak sekali dalam hidup mereka (ScienceDaily , 2008).

Lain lagi dengan fenomena mahasiwa/i yang tengah merasakan masa-masa mudah dalam percintaannya dengan orang lain, kondisi yang demikian seharusnya secara positif memacu prestasi dan belajar mahasiswa serta memacu keefektifan kegiatan perkuliahannya, namun tidak jarang kita temui pada kondisi demikian sebagian mahasiswa justru terlena dan cenderung mengesampingkan sebagian tanggung jawabnya sebagai mahasiswa dan lebih memilih untuk banyak menghabiskan waktunya melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi kuliahnya bersama pasangannya, dan ironisnya lagi prestasi belajar yang selama ini diperjuangkan harus dikorbankan sebagai akibatnya.

Gagasan Terdahulu Mengenai Keberadaan Klinik-Klinik Psikolog

Jika kita mencermati berbagai dampak negatif kondisi psikososial remaja dalam hal ini mahasiswa/i, sebenarnya ada banyak faktor yang melatarbelakangi kondisi demikian, selain disebabkan oleh kurang stabilnya emosi remaja, faktor orang terdekat juga sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. Keberadaan teman maupun keluarga sangat mempengaruhi pola emosional seseorang. Selama ini belum ada solusi yang efektif dalam menangani masalah ini. Rata-rata mahasiswa mencurahkan perasaannya kepada sesama temannya yang bukan merupakan ahli  dalam menangani permasalahan yang demikian dan pada kenyataannya tidak banyak yang mampu memberi impuls yang positif ke permasalahan yang dihadapi. Melihat fenomena yang demikian, keberadaan para psikolog dan psikiater rupanya diminati jasanya oleh pasien dengan berbagai gangguan psikologinya, bukan hanya pada masalah perekonomian, keluarga, namun permasalahan cinta remaja juga turut memberikan kontribusi yang tinggi sebagai pasien jasa psikolog.

Berangkat dari kondisi yang demikian, keberadaan psikolog memang menjadi salah satu bentuk penanganan dan penyembuhan kondisi kejiwaan manusia yang efektif di samping pendampingan nilai-nilai agama. Pendidikan psikolog sendiri memang sedang gencar-gencarnya dikembangkan di Indonesia khususnya pendidikan formal di perguruan-perguruan tinggi, hal ini didukung dengan adanya data mengenai jumlah pendidikan psikologi di 55 perguruan tinggi Indonesia baik negeri maupun swasta pada November 2011 kemarin (kompas).

Pada dasarnya kita perlu mengkaji lebih dalam lagi perihal keberadaan psikolog bagi kalangan mahasiswa, lebih tepatnya sebagian besar mahasiswa/i pasti berpikir dua kali untuk menggunakan jasa para psikolog tersebut dengan alasan tingginya tarif yang mesti dikeluarkan untuk konsultasi. Menurut sumber koran Tempo, besarnya tarif untuk kegiatan konsultasi bisa beragam sesuai tempat praktek para psikolog, namun secara umum tarifnya berkisar mulai dari 90.000 unt satu kali konsultasi (30-60 menit). Sudah dapat dipastikan para mahasiswa akan berpikir matang-matang untuk menggunakan jasa psikolog dalam mencairkan masalahnya.

Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Mampu Diperbaiki Oleh Gagasan Yang Akan Diajukan

Mengambil sedikit intisari dari sub bab sebelumnya yakni mengenai solusi yang ditawarkan berupa keberadaan para psikolog profesional yang membuka prakteknya, namun masih banyak yang belum dimanfaatkan oleh para mahasiswa/i karena berbagai alasan, salah satunya mengenai tingginya tarif yang ditetapkan oleh para psikolog, maka sebagai pencetus ide untuk mengatasi kondisi yang demikian di bentuklah sebuah wadah mahasiswa yang khusus mendampingi, mengayomi sekaligus memberi binaan ringan bagi mereka (para mahasiswa) yang tengah mengalami ketidakstabilan emosional dan depresi kejiwaan. Wadah ini di bentuk sesuai dengan tujuan UKM (unit kegiatan mahasiswa) lain yang memberi keleluasaan pada mahasiswa untuk berkontribusi langsung menjadi pengelola kegiatan ini, dan terjun langsung mengupayakan keberhasilan kegiatan dengan berkorelasi dengan pihak-pihak yang berkompeten sesuai tujuan kegiatan yang berisi pendampingan, pengayoman dan binaan. Wadah ini dinamakan Heart Student Healing, sesuai namanya, wadah kegiatan ini bertujuan untuk meringankan ketidakstabilan emosional mahasiswa pasca putus cinta, patah hati dan masalah interaksi emosional lainnya dengan metode penyembuhan yang bertahap dan berkesinambungan melalui praktek langsung para psikolog muda, yakni para mahasiswa jurusan psikologi yang tengah menempuh kredit semester akhirnya di bangku perkuliahan untuk andil langsung dan mempraktekkan secara lokal (dalam universitasnya) ilmunya untuk menangani permasalahan para pasien (mahasiswa) yang artinya, kegiatan UKM HCH ini di bentuk bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pendampingan mahasiswa yang bermasalah saja, namun juga melalui manajemen pengelolaan yang tepat dan pihak terlibat yang benar berkompeten di bidangnya.   Wadah ini berisikan kegiatan yang berkonsep share solution and empowering solution, artinya melalui UKM ini mahasiswa yang bertindak selaku pasien selain mendapatkan solusi-solusi dari permasalahannya oleh para calon psikolog juga mendapatkan pemberdayaan program dari HSH ini dengan berkontribusi menyalurkan suatu karya yang berkaitan dengan kondisi lama emosional mereka, dan mendapatkan pembimbingan kegiatan-kegiatan positif pasca patah hati seperti kegiatan travelling bersama, debating, dan kegiatan-kegiatan sosial yang diberdayakan oleh pihak HCH.

Melalui HCH ini diharapkan setelah merasa mendapat pendampingan dan dukungan moril para mahasiswa kembali terpacu untuk meningkatkan prestasi bangku kuliahnya dan memberi efek positif dalam kelangsungan kehidupannya ke depan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti putus asa yang berkelanjutan, stress, hingga percobaan bunuh diri. Karena HCH memang didedikasikan untuk kepentingan mahasiswa.

Pihak-Pihak Yang Dipertimbangkan Dapat Membantu Mengimplementasikan Gagasan dan Uraian Peran atau Kontribusi Masing-Masingnya

UKM HCH ini bersifat kreativitas mahasiswa, maka dalam pelaksanaannya sendiri mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatannya, baik sebagai pengelola kegiatan maupun sebagai peminatnya (pasiennya). UKM HCH ini di buat melalui persetujuan PR III, sesuai kewenangan yang dimiliki pihak pembantu rektor III yakni berdasarkan keputusan menteri pendidikan nasional republik Indonesia no 29 tahun 2007 pasal 8 butir ke 3 menyatakan bahwa tugas dari pembantu rektor tiga yakni membantu Rektor dalam memimpin  pelaksanaan kegiatan di bidang pembinaan dan pelayanan kesejahteraan mahasiswa, artinya dengan adanya peran PR III disini, keberadaan UKM  ini tidak mendapatkan tanggapan sebelah mata dari mahasiswa lain, karena seperti yang kita ketahui bahwa persoalan mengenai percintaan, gaya hidup dan sebagainya sering kali dianggap mitos dan pelengkap kehidupan padahal masalah kejiwaan yang berkaitan dengan percintaan lawan jenis berpengaruh terhadap kondisi psikososial individunya dan yang lebih vital lagi, keterkaitan pihak PR III diharapkan bisa memfasilitasi pengadaan dana guna berlangsungnya kegiatan ini. Keterkaitan PR III disini juga sebagai langkah pengambilan persetujuan atas berbagai program dan konsep di dalam HCH ini.

Pihak selanjutnya yang berperan dalam pembentukan kegiatan ini adalah mahasiswa, mahasiswa yang tengah menyelesaikan kredit semesternya di perguruan tinggi tersebut, dan berminat untuk menjadi pengurus dan mengorganisir kegiatan ini, sedangkan pihak yang berperan sebagai konsultan pasiennya merupakan mahasiswa Psikologi yang tengah menempuh kredit semester 5-7 yang notabenenya memang mempelajari hal ihwal mengenai ilmu kejiwaan seseorang dan dengan adanya UKM yang demikian, para calon psikolog muda ini di apresiasi untuk terjun langsung menangani permasalahan psikososial teman sebaya di sekitar kehidupan mereka (lingkungan universitas) paling tidak antara mahasiswa pasien dan konsultan memiliki keterikatan emosional yang lebih mudah untuk memahami fenomena pada masa-masa konsultasi. Dari segi manfaatnya, jika terlaksana dengan baik manfaat juga turut dirasakan oleh para calon psikolog muda yang notabenenya berperan menjadi praktek lapang (walau bukan praktek lapang yang tertera di kurikulum, melainkan praktek turun langsung ke kejadian) sehingga bisa dijadikan sarana memperkaya pelatihan diri, sebelum terjun langsung secara profesional kedalam masyarakat.

Langkah-Langkah Strategis Yang Harus Dilakukan Untuk Implementasi Gagasan Sehingga Tujuan Atau Perbaikan Yang Diharapkan Dapat Tercapai

Memulai sebuah kegiatan dengan landasan konsep yang baru bukanlah suatu perkara yang mudah, prosesnya akan menemui berbagai kendala dan pro kontra efektivitasnya, apalagi jika program kegiatannya masih sangat jarang di temui, pasti akan lebih sulit untuk meyakinkannya, Untuk melaksanakan program yang digagas di atas maka perlu kerja sama dari berbagai pihak. Teknis terurut yang distrategiskan di sini adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pertama, Mensosialisasikan rencana pembentukan unit kegiatan mahasiswa dan memberi gambaran mengenai latar belakang UKM ini kepada mahasiswa/i secara terbuka.
  2. Tahap kedua, Menyaring aspirasi mahasiswa yang mendukung terciptanya UKM HSH ini, dengan adanya dukungan yang cukup, rencana pembentukan UKM ini memiliki nilai positif di mahasiswa dan layak untuk dilanjutkan pada jenjang selanjutnya.
  3. Tahap ketiga, Melakukan koordinasi dengan unit-unit kegiatan mahasiswa lainnya yang memiliki andil besar dalam kegiatan mahasiswa, untuk menyaring dukungan dan aspirasi mahasiswa/i sekaligus sebagai penyalur hasil kreativitas para mahasiswa yang menjalani terapi.
  4. Tahap keempat, Melakukan koordinasi dengan pihak dari bidang ilmu psikologi mengenai kegiatan yang dapat terintegrasi secara berkesinambungan dan menjadi salah satu alternatif pengembangan ilmu psikologi dalam kehidupan perkuliahan.
  5. Tahap kelima, setelah mendapatkan persetujuan dan dukungan dari pihak-pihak yang terlibat , langkah selanjutnya yakni pengajuan kepada pihak perguruan tinggi dalam hal ini diwakili oleh pembantu rektor III berkaitan dengan kewenangannya untuk memfasilitasi unit kegiatan mahasiswa dengan berbagai persyaratan wajib sebuah UKM

Kemudian setelah persetujuan dari pihak-pihak tersebut berhasil, maka

butuh langkah lain untuk merealisasikan berbagai perlengkapan kepengurusan dan kegiatan, langkah tersebut di antaranya:

  1. Sosialisasi ke seluruh fakultas dan lini kegiatan mahasiswa sebagai pengenalan program kegiatan mahasiswa yang baru.
  2. Mengadakan open recruitmen akbar bagi kepengurusan, dan open recruitmen psikolog kampus bagi konsultan
  3. Mengadakan berbagai persiapan, mulai dari pengesahan kepengurusan, pengumpulan data-data pihak terkait dan data-data monitoring kegiatan hingga rapat akbar kepengurusan.
  4. Merancang pola kegiatan mahasiswa ini sesuai tugas dan kapasitasnya masing-masing dengan konsep healing sebagai panutan proses berjalannya kegiatan.
  5. Menjalankan proses kegiatan mahasiswa ini sesuai konsep yang telah dirancang.

Kriteria mendetail mengenai strukturisasi kegiatan ini

  1. Setiap mahasiswa/i di universitas tersebut berhak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan konsultasi, sesuai dengan waktu dan dan periode yang telah disepakati bersama.
  2. Pelayanan waktu konsultasi berlangsung 2 kali seminggu yakni pada hari senin dan kamis mulai pukul 09.00-14.00 WIB
  3. Kriteria permasalahan yang ditangani berkaitan dengan kejiwaan dan realita hubungan remaja pria dan wanita, baik itu dampak hubungan yang mengarah ke potensi positif maupun negatif, karena HSH ini difokuskan untuk menangani depresi yang dialami oleh mahasiswa sebagai akibat permasalahan hubungan sosialnya (percintaannya).
  4. Untuk setiap pelayanannya, semua jadwal disesuaikan dengan kondisi para konsultan cintanya, dan untuk jagka waktu konsultasinya, tergantung pada kesepakatan antara mahasiswa pengonsul dan konsultannya (mahasiswa psikologi)
  5. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam kegiatan ini sama sekali tidak dipungut biaya, sehingga sangat membantu mahasiswa yang sedang membutuhkan pendampingan psikososialnya, lebih meringankan jika dibanding dengan psikolog profesional yang tarifnya bisa mencapai 100.000/jamnya.
  6. Sebagai umpan balik dari pasien (mahasiswa pengonsul) diwajibkan untuk menyalurkan sebuah kreativitas (tidak terbatas, mulai dari tulisan, rancangan kegiatan, fiksi maupun  benda) untuk diapresiasikan kepada universitas dan kepentingan nyawa psikologi Indonesia.

Dengan adanya perincian gagasan diatas, maka nilai efektivitas pendampingan mahasiswa depresi akibat hubungan lawan jenis perlahan dapat di minimalisir, dan bermuara kepada minimnya angka percobaan bunuh diri mahasiswa.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Masalah yang paling mendasar dalam karya tulis ini merujuk pada banyaknya fenomena tindakan irrasional mahasiswa/i pasca mengalami goncangan psikososial dan membutuhkan pendampingan secara intern.
  2. Merancang sebuah unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang berkontribusi utama dalam pemberian pendampingan, empowering dan terapi psikis mahasiswa melalui praktek langsung kinerja mahasiswa psikologi.
  3. Langkah strategis untuk pelaksanannya berkoordinasi dengan pihak rektorat yang berwenang menyetujui UKM dan menjalin kerjasama dengan UKM lain sebagai pertimbangan layaknya UKM HSH ini dan bekerja sama dengan pihak dari bidang ilmu psikologi sebagai penggerak kegiatan inti
  4. Output dari pembentuka kegiatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa/i untuk mendapatkan kembali kondisi psikososial yang stabil, dan UKM ini ditujukan sebagai upaya minimalisir tindakan separatis mahasiswa terhadap diri sendiri dan kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA

Koran Tempo. 2012. Stres dan patah hati, mahasiswa gantung diri, http://www.tempo.co/read/news/2012/11/19/064442741/Stres-Dan-Patah-Hati-Mahasiswa-Gantung-Diri (5 Maret 2013)

Klinik Psikis. 2012. Bunuh diri pada mahasiswa ternyata lebih umum, http://klinikpsikis.wordpress.com/2012/05/20/bunuh-diri-pada-mahasiswa-ternyata-lebih-umum/ (5 Maret 2013)

Saragih, Juniana Irmayanti dkk. 2004. Fenomena jatuh cinta pada mahasiswi, http://www.usu.ac.id/id/files/artikel/catuh_cinta_irma.pdf ( 5 Maret 2013)

Kemendiknas. 2007. Rektor dan pembantu rektor, (http://storage.jak-stik.ac.id/ProdukHukum/Pendidikan/permen_29_2007.pdf  (5 Maret 2013)

Koran Tempo. 2010. Seberapa  Mahalkah Tarif Psikiater, http://health.kompas.com/read/2012/11/07/08563660/Mahalkah.Tarif.Psikiater (5 Maret 2013)

Upaya Revitalisasi Kesenian Teater “DULMULUK” Asli Palembang

GAGASAN

Sejarah Kesenian Dul Muluk Palembang

 Pada perkembangannya, kesenian dulmuluk ini berawal dari pengisahan petualangan abdul muluk Jauhari yang di kisahkan oleh Wan Bakar ( seorang saudagar gujarat yang senantiasa berniaga di daerah kota palembang) kepada para pelanggan-pelanggannya setiap habis berniaga saja, namun karena pandainya Wan Bakar dalam berkisah dan bersyair, lambat laun sebagian masyarakat Palembang sangat tertarik untuk mendengarkan sajak-sajak raja abdul muluk, hingga setelah  itu Dulmuluk Wan Bakar sering diundang-undang keberbagai acara masyarakat. Sosok Wan Bakar ini kemudian sangat popular melisankan cerita dalam bahasa Melayu klasik atau pantun-pantun bertutur. Seni bertutur ini akhirnya berkembang dengan menampilkan sejumlah pemain untuk memerankan tokoh-tokoh tertentu, misalnya Raja, Perdana Menteri, Rakyat dan Khadam (tokoh banyol seperti goro-goro dalam wayang kulit). Pada tahun 1919, tercatat pertama kali pembacaan teks dibawakan dalam bentuk dialog disertai gerak tubuh sesuai peran masing-masing. Dulmuluk akhirnya berkembang pesat sebagai satu-satunya hiburan yang cukup menarik di kalangan masyarakat Sumatera Selatan.  (Muhsin, 2008).

Perkembangan Dul Muluk dari syair yang dituturkan, kemudian pembagian peran berdasarkan tokoh di dalam kitabnya, lalu dibentuk semacam pertunjukan ini menunjukkan sesuatu yang unik. Dalam pengertian, jika seni teater diibaratkan sebuah rumah sementara lakon adalah isinya, Dul Muluk “terbalik” dalam urusan penyediaan rumah itu. Apabila Ketoprak dan Ludruk merupakan rumah dan lakonnya merupakan pengisi rumah (dapat dibentuk dongeng, legenda, mitos, sejarah, atau penghistori) dalam pementasannya, tidak demikian dengan Dul Muluk, lakon Dul Muluk merupakan isi, sedangkan pertunjukan panggungnya adalah rumah. Dengan demikian, Dul Muluk sudah pasti berkisah tentang Abdul Muluk, dan tidak dapat diisi dengan kisah lain ( Yek Kamaluddin, 2008)

Dul Muluk juga telah banyak mengalami perkembangan, terutama dari kata pementasan dan pola panggungnya. Dari awal teater ini telah tersentuh pengaruh dardanela dan stambul. Semula pola panggung Dul Muluk serupa dengan teater arena (bentuk awal teater di Yunani). Para pemain berakting dengan penonton yang duduk di sekelilingnya. Pemain muncul dari jabang (ruang rias) melintasi semacam jalur menuju arena. Saat itu, bedug atau jidor berada didalam jabang sedangkan musik pengiring berupa biola, gendang dan gong sekarang ditambah akordio menempati posisi disisi kiri atau kanan panggung. Pada 1962, pola panggungnya mengalami perubahan. Mulai saat itu Dul Muluk berpentas layaknya teater modern. Bentuk panggung persegi empat, pemain menempati posisi,pertimbangan keseimbangan pentas dan pemusik pun berkumpul di salah satu panggung (jidor tidak lagi didalam ruangan). Perubahan lain adalah tampilnya perempuan sungguhan pada tahun 1980-an sebelumnya tokoh putri dan permaisuri diperani oleh laki-laki.

Dulmuluk menjadi salah satu kebudayaan yang amat melekat di hati peminatnya bukan saja dari keapikan cerita maupun pemeran dalam pagelaran tersebut melainkan proses-proses penyampaian nilai-nilai luhur dalam cerita yang amat indah menjadi keberadaan Dulmuluk sangat spesial di hati penggemarnya.

Realita Dul Muluk Palembang Saat Ini

Keberadaan dulmuluk pada masanya sebenarnya amat berada pada puncak ketenaran di tengah-tengah masyarakat Palembang, tak terkecuali di tingkat teater nasional, dulmuluk menjadi salah satu teater yang sangat diperhitungkan di masanya, kesohoran dulmuluk ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh penikmatnya di sumatera selatan saja melainkan di kota-kota lain seperti jakarta pun pernah menikmati seni pagelaran ini.

Namun lambat laun, tepatnya setelah masa kedua era kejayaan teater dulmuluk sekitar pertengahan abad ke 19 seni pagelaran dulmuluk ini mulai menemui pasang surut eksistensi pementasannya, mulai dari masuknya hiburan-hiburan baru dalam masyarakat kota palembang seperti keberadaan orgen tunggal, orkes melayu, hingga pertunjukan-pertunjukan semimodern lainnya sangat berpengaruh pada eksistensi teater Dulmuluk pada saat itu, hingga praktis pagelaran teater dulmuluk lambat laun menghadapi situasi krisis, dimana sebagian masyarakat telah banyak bahkan hampir sebagian besarnya beralih pada pagelaran musik yang lebih baru dibanding mengundang seni teatrikal dulmuluk ke acara-acara mereka.

Apalagi dengan generasi-generasi penerusnya yang kian berkurang dari masa ke masa menyebabkan kesenian teater dulmuluk sulit untuk di pertahankan eksistensinya. Budaya kesenian modern yang kini terlihat hampir disetiap acara-acara masyarakat ternyata jauh lebih menarik di mata generasi muda, daripada harus tetap bergelut pada kesenian tradisional asli palembang dulmuluk ini. Maka dari itu, tidak mengherankan jika kondisi kesenian teater dulmuluk saat ini amat sulit ditemukan pagelarannya, dan jikapun ada sangat jarang pementasannya, keberadaan sanggar-sanggar dulmuluk pun saat ini sangat terbatas keberadaannya dan rata-rata diantara mereka mementaskan seni teatrikal ini hanya sebatas keikutsertaannya dalam perlombaan, festival teater nasional, dan sangat minim sekali pagelarannya di tengah-tengah masyarakat. padahal amat disayangkan akan redupnya seni teater tradisional yang sempat melambungkan nama kota Palembang dalam kejuaraan festival-festival teatrikal nasional bahkan beberapa kali juga kesenian dulmuluk ini mendapat tempat dimata internasional.

Seperti yang dikutip dari pernyataan Dr Nurhayati SPd MPd dan tim yang mengikuti The Ninth International Comperence on Environmental, Culture ada tiga hal mendasar yang menyebabkan mengapa kesenian dulmuluk lambat laun ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, Pertama, manajemen yang digunakan masih bersifat tradisional, mencakup manajemen organisasi, produksi, dan artistik. Kedua, kurangnya evaluasi setelah pementasan Dul Muluk. Kurangnya evaluasi dinilai sebagai minimnya pengayaan inovasi pada tokoh-tokohnya sendiri untuk berkreasi supaya dulmuluk tetap diminati khususnya generasi muda sekarang. Kreativitas disini amat penting, selain sebagai faktor pembaharuan, faktor penarik yang utama bagi generasi sekarang haruslah ditumbuhkan dalam perencanaan teater dulmuluk, namun tetap dalam koridor pakemnya (syarat-syarat utamanya) agar warna dulmuluk bisa menyesuaikan minat generasi sekarang yang praktis dan segar.

Kenyataan yang mencengangkan ditemukan dari hasil penelitian “Developing a Model for Revitalizing the Traditional Performance of Dulmuluk by the Application of Structural and Reader Resporse Theories” oleh Dr Subadiyono SPd MPd dan Dr Didi Suhendi SPd Mhum, Dr Nurhayati SPd MPd menyatakan bahwa hampir 60% guru tidak kenal Dul Muluk. Sekitar 40 % mengenal dari tayangan di televisi. Yang lebih mengejutkan lagi, 80 % mahasiswa di kota Palembang  tidak mengenal Dul Muluk sama sekali. Hanya 20 % mahasiswa yang mengenal Dul Muluk. Dengan kenyataan diatas bentuk revitalisasi mutlak dilakukan untuk menyelamatkan aset kesenian dan identitas budaya dari kota Palembang ini (Sumeks, 2013).

Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda Sumatera Selatan Dalam Mempertahankan Kesenian Dul Muluk

Sebagai salah satu aset kesenian daerah yang luar biasa pengaruhnya terhadap jejak budaya masyarakatnya, keberadaan dulmuluk sebenarnya senantiasa dipertahankan oleh para penikmat maupun pemainnya dalam berbagai kesempatan, tak luput pula dari campur tangan kebijakan pemerintah pusat dan daerah (dalam hal ini sumatera selatan) yang saat ini gencar-gencarnya melakukan upaya-upaya pelestarian kekayaan budaya daerah salah satunya dulmuluk ini, dengan pengadaan pementasan festival-festival budaya daerah tiap tahunnya.

Sebenarnya antara pemerintah pusat dan daerah saling berkontribusi dalam upaya pelestarian kekayaan budaya daerah, karena ini merupakan tugas bersama dalam departemen yang menaunginya atau pihak yang terkait sebagai badan pengembangan pariwisata dan kesenian dalam KEPPRES no 11 tahun 2000.

Selain mengupayakan berbagai karnaval budaya daerah, november 2012 kemarin, pihak Balitbangda Provinsi Sumsel mengusulkan Dulmuluk ke UNESCO sebagai warisan budaya milik Indonesia dalam hal ini milik provinsi Sumsel, tujuannya tidak lain agar kebudayaan tersebut tidak di akui oleh negara lain. Kebijakan penanganan hak paten ini dinilai sebagai angin segar bagi pelestarian Dulmuluk, pasalnya jika hak paten dulmuluk sudah dimiliki maka akan semakin mempermudah gerak para punggawa dulmuluk itu sendiri dalam mengembangkan kreativitas sajian dulmuluknya. Penetapan hak paten ini mengacu pada Hak Kekayaan Intelektual suatu daerah yang berlandaskan pada UU no 14 tahun 2001  tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 109), UU Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten, dan UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Hak Paten.

Selain kebijakan tersebut, kesenian dulmuluk sebenarnya sudah mulai ditanamkan pada kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler disekolah-sekolah, namun tetap saja intensitas, minat dan penekanan akan pembelajaran mengenai dulmuluk masih rendah dikalangan siswa-siswanya, mereka cenderung lebih menyukai hal-hal yang lebih ringan dalam penyampaiannya seperti teater biasa.

Pada dasarnya, pemerintah pusat dan daerah tidak pernah lepas tangan terhadap berbagai potensi kebudayaan daerah yang hampir punah, namun seperti yang telah dikutip sebelumnya bahwa kurangnya manajemen (baik itu managemen kerja sama antar pemerintah, pihak dulmuluk, dan masyarakat sasaran yang belum terjalin secara selaras) dan kurangnya evaluasi ( evaluasi terhadap kreativitas yang mutlak dimunculkan dalam sebuah pagelaran dulmuluk seiring dengan kondisi remaja saat ini dengan tetap berpegang pada pakemnya) sedangkan yang dirasa saat ini, upaya-upaya di atas tadi, yang dilakukan oleh pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkesan sekedar mengingatkan kembali bahwa teater dulmuluk merupakan teater yang berasal dari palembang yang notabenenya bergerak statis sebagai upaya pelestarian dulmuluk itu sendiri, dan kurang mengoreksi cara penyampaian dulmuluk yang menjadi masalah utama mengapa dulmuluk perlahan di tinggalkan generasi muda. Kunci evaluasi dan kreativitas pada cara penyampaian pesan-pesan dulmuluk inilah yang seharusnya menjadi sorotan utama dalam upaya revitalisasi kesenian daerah di era kini dengan tetap berpegang teguh dan tidak mencederai pakem-pakem yang ada dalam dulmuluk.

Revitalisasi Kesenian Dul Muluk Melalui Berbagai Metode dan Program 

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Revitalisasi kesenian Dul Muluk itu memang sangat diperlukan, namun tetap tidak mengubah pakem yang ada dalam Dul Muluk itu sendiri. Untuk mengatasinya maka dapat dilakukan metode dan program sebagai berikut :

  1. Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk.

Stand-up comedy, secara harfiah berarti komedi berdiri, adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung, dengan cara bermonolog mengenai suatu topik. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut pelawak tunggal (bahasa Inggris: stand-up comedian), komik, atau komik berdiri (komik tunggal) dan bila dikaitkan dengan Dul Muluk seperti yang telah disebutkan bahwa pada awalnya kesenian Dul Muluk adalah syair yang dituturkan atau pengisahan petualangan abdul muluk Jauhari dari buku syair Sultan Abdul Muluk oleh seseorang yaitu Wan Bakar baru kemudian berkembang menjadi teater. Jadi dari sini dimaksudkan membawa kembali budaya Dul Muluk yang dulu menggunakan dengan sentuhan gaya modern. Seperti kita ketahui bahwa saat ini Stand Up Comedy sedang sangat popular dikalangan remaja Indonesia, pembawaannya yang ringan dan praktis menjadi salah satu indikator yang diminati remaja. Dengan membawakan topik dalam naskah Dul Muluk diharapkan para remaja yang merupakan generasi penerus yang kurang minatnya dengan adanya Stand Up Comedy yang membawakan konsep Dul Muluk bisa mulai tertarik untuk mengenal dan mempelajari Dul Muluk itu sendiri.

  1. Mengintegrasikan Dul Muluk kedalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal kesenian di Sekolah Dasar

Ada beberapa sekolah yang menjadikan Dul Muluk sebagai ekstra kulikuler. Hal ini sudah bagus, tapi hanya sebatas dalam ekstra kulikuler dan masih sulit untuk menarik siswa/i. Untuk itu diintegrasikan  pemerintah daerah Sumsel untuk menetapkan dan disetujui oleh Dinas Pendidikan Sumsel agar memasukkan Dul Muluk kedalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal kesenian di Sekolah Dasar, sehingga sejak dini anak-anak dikenalkan dengan kesenian Dul Muluk dan mewadahi bagi anak-anak yang tertarik pelatihan teater Dul Muluk

  1. Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada.

Jika sebelumnya Pemda Sumsel hanya menyemarakkan teater Dul Muluk pada saat festival seni dan Budaya saja, maka disini diharapkan pemerintah juga selalu memasukkan unsur teatrikal dulmuluk dalam acara-acara resmi dan semi resmi agenda kegiatan acara pemerintah daerah dan pemerintah pusat selain pementasan tari tanggai yang juga budaya khas sumatera selatan.

  1. Regenerasi seniman Dul Muluk melalui pelatihan keterampilan

Saat ini para teater Dul Muluk berangsur-angsur mulai kehilangan sosok tetua dulmuluk, dan sedikit sekali anak muda yang bisa mementaskan Dul Muluk. Jadi diharapkan dengan adanya lembaga yang memfasilitasi pelatihan keterampilan teater Dul Muluk ini, bisa mewariskan kesenian Dul Muluk ini kepada generasi mudanya. Strategi cerdas mutlak bagi lembaga ini untuk mengembangkan atmosfer dulmuluk pada remaja, melalui

Peran dan Langkah Strategis Pencapaian Program

Untuk melaksanakan program ini, maka perlu peran serta semua pihak baik pemerintah, seniman, maupun masyarakat khususnya generasi muda. Peran pemerintah adalah dengan menyetujui penetapan Masuknya Dul Muluk ke dalam kurikulum muatan lokal kesenian Sekolah Dasar, menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada. Peran pemerintah juga dapat dilakukan dengan menfasilitasi kelembagaan yang khusus menangani pelatihan keterampilan Dul Muluk agar menarik perhatian para Generasi Muda untuk bergabung didalamnya. Peran seniman Dul Muluk dalam hal ini adalah berkreasi memikirkan ide-ide kreatif terkait usaha pelestarian Dul Muluk melalui berbagai inovasi khususnya dalam hal cipta kreasi dengan sasaran utama generasi muda. Sedangkan peran mayarakat adalah sebagai objek sekaligus pelaku untuk menyukseskan program tersebut. Tanpa peran serta masyarakat maka program dan usaha mengembalikan kejayaan Dul Muluk ini tidak akan pernah sukses.

Output dari program ini nantinya akan melahirkan Pemain Dul Muluk dari kalangan generasi muda, khususnya dalam hal meningkatkan semangat dan gairah pemain sekaligus menghibur penonton dalam usaha pengembangan inovasi Dul Muluk. Langkah strategis yang dapat dilakukan adalah :

  1. Menjalin koordinasi pihak dan instansi pemerintah yang terlibat seperti departemen/dinas pendidikan, departemen/dinas pariwisata, departemen/dinas pemuda dan olahraga.
  2. Mengumpulkan dan memberdayakan seniman-seniman Dul Muluk yang ada di seluruh daerah di provinsi Sumatera Selatan.
  3. Menjalankan program Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk melalui perlombaan dan kerjasama dengan stasiun televisi lokal untuk ditayangkan program tersebut minimal setiap minggunya.
  4. Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada, terkait pula event agenda kegiatan pemerintah baik resmi maupun non resmi.

Dengan adanya langkah strategis dan peran pihak terkait pada pos nya masing-masing, diharapkan mampu membangkitkan kembali masa kejayaan Dul Muluk, sehingga Dul Muluk dapat terjaga kelestariannya dengan baik sebagai salah satu warisan budaya Asal Palembang yang pernah mendunia.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Dul Muluk merupakan seni teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan (Sumsel), terutama di Palembang. Lambat laun kesenian ini mulai ditinggalkan penggemarnya. Pementasan Dul Muluk mulai sepi penonton, kesenian ini pun makin terpinggirkan. Oleh karena itu dibutuhkan Revitalisasi untuk mempertahankan eksistensi kebudayaan ini.
  2. Revitalisasi kesenian Dul Muluk dapat dilakukan dengan metode dan program sebagai berikut: 1) Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk, 2) Mengintegrasikan Dul Muluk kedalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal kesenian di Sekolah Dasar, 3) Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada, 4) Regenerasi seniman Dul Muluk melalui pelatihan keterampilan
  3. Langkah strategis yang dapat dilakukan adalah : 1) Menjalin koordinasi antar berbagai pihak dan instansi pemerintah yang terlibat seperti departemen/dinas pendidikan, departemen/dinas pariwisata, departemen/dinas pemuda dan olahraga, 2) Mengumpulkan dan memberdayakan seniman-seniman Dul Muluk yang ada di seluruh daerah, 3) Menjalankan program Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk melalui perlombaan dan kerjasama dengan stasiun televisi lokal untuk ditayangkan program tersebut minimal setiap minggunya, 4) Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada.
  4. DAFTAR PUSTAKA

Fajri, Muhsin. 2008. Faktor Ekonomi, Seni Tradisional Dulmuluk Krisis Generasi. http://budayasumeks.blogspot.com/2008/08/dulmuluk.html (16 Maret 2013).

Kamaluddin, Yek. 2008. Latar Belakang Dul Muluk. http://www.scribd.com/doc/110539959/Latar-Belakang-Dul-Muluk. (16 Maret 2013).

Sumatera Ekspress. 2013. Kesenian Dul Muluk Kesulitan Mendapatkan Tempat. http://suarasumsel.com/kesenian-dul-muluk-kesulitan-mendapatkan-tempat.html (16 Maret 2013).

Image

Upaya penerapan teknologi diversifikasi pangan “nata de soya rasa jahe”

  1. A.  JUDUL

“Nata de Soya Jahe” diversifikasi usaha non emisi “

Sebagai upaya pemberdayaan dan peningkatan nilai ekonomis limbah industri tahu rumahan Lingga Sari di jalan lintas timur sumatera KM 26 Inderalaya, kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan

  1. B.  LATAR BELAKANG

Pertanian kedelai menghasilkan berbagai prospek bisnis yang menjanjikan, pernyataan ini bukan sekedar asumsi semata, sudah sejak lama kedelai dijadikan salah satu bahan pangan melalui sumber proteinnya. Pengolahan pasca panen kedelai yang tepat telah membuka berbagai peluang bisnis yang berjangka lama. Sebut saja peningkatan nilai ekonomis kedelai melalui pembuatan tahu.

Pengolahan kedelai dalam pembuatan tahu, memang telah menjadi usaha turun-temurun sejak lama dan produksinya selalu ramai oleh permintaan konsumen, hal ini bukan hanya disebabkan dari segi rasanya, namun dari segi kandungannya yang baik, dan juga dari segi ekonomisnya yang terjangkau bagi masyarakat menengah. Dalam proses produksinya, tahu terbentuk dari sari kedelai yang tersaring, dan dengan bantuan proses fermentasi, terbentuklah padatan yang kemudian dikenal sebagai tahu, sedangkan yang bersisa diantaranya merupakan limbah tahu, yang kebanyakan dari produsen kita khususnya disumatera selatan hanya dipergunakan sebatas campuran pakan ternak.

Padahal secara ilmiah, dalam limbah yang berasal dari pembuatan tahu, masih terdapat banyak kandungan unsur yang baik dan memungkinkan lagi untuk dijadikan olahan panganan lainnya, bukan hanya terbatas pada pakan ternak. Kandungan protein yang terserap dalam penggumpalan tahu hanya sebesar 10,9%, sedangkan sisanya terbuang bersama air limbah tahunya(bbb). Dengan persentase kandungan gizi yang demikian besarnya, reproduksi air limbah tahu sangat potensial dilakukan. Salah satu teknologi hasil olahan limbah yang bernilai ekonomis tinggi yakni teknologi fermentasi menjadi nata de soya. Nata merupakan biomassa yang sebagian besar terdiri dari selulosa, berbentuk agar dan berwarna putih. Massa ini berasal pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan media cair yang asam dan mengandung gula (bbb)

Apalagi seperti yang kita ketahui pada kondisi sekarang ini, produksi tahu bukan hanya menuntut pada kualitas tahu yang dihasilkan semata, lebih jauh lagi mengenai eksistensi atau kelangsungan produksi tahu ditengah-tengah ketidak konsistenan harga kedelai yang sewaktu-waktu mengalami perubahan, juga kenaikan ongkos produksi yang secara konsisten mengalami kenaikan. Memaksa para pengusaha tahu memutar otak untuk mengatasi kenaikan biaya produksi dengan meminimalisasi bentuk tahu yang dijual hingga menaikkan harga jual tahu dipasaran, bahkan tak jarang kita temui usaha rumahan tahu yang terpaksa gulung tikar menghadapi kenaikan ini. Oleh karena itu,  reproduksi limbah tahu menjadi salah satu solusi yang tepat untuk kelangsungan usaha tahu khususnya di inderalaya, yang memang terdapat beberapa usaha-usaha rumahan tahu baik mikro maupun menengah yang masih menerapkan prinsip usaha yang konvensional dengan membuang air limbah hasil produksi tahu.

Dan inovasi penambahan jahe sebagai rasa, disebabkan jahe selain memiliki banyak kadar manfaat yang baik bagi kesehatan, aromanya yang menyegarkan diharapkan menetralisir aroma yang ditimbulkan dari proses fermentasi nata de soya walaupun telah mengalami pemanasan berkali-kali.

  1. C.  PERUMUSAN MASALAH

Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, disamping persoalan utama mengenai tingginya biaya produksi juga keberadaan limbah tahu (whey) yang kurang mendapatkan perhatian serius dari pihak produsen khususnya di Inderalaya. Sehingga yang menjadi rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana memberi pemahaman dan penanaman pola pikir baru, bahwa keberadaan limbah tahu yang ada sangat potensial untuk diolah menjadi produk baru
  2. Bagaimana cara memanfaatkan limbah tahu yang dianggap sampah, menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi
  3. Bagaimana meningkatkan standar pendapatan (ekonomi) para pengusaha melalui pembuatan, dan penjualan Nata de Soya Jahe.
  4. D.  TUJUAN PROGRAM

Adapun tujuan dari hasil pembuatan program kreatifitas mahasiswa pengabdian masyarakat ini meliputi :

  1. Mengenalkan pada masyarakat mengenai sisi positif keberadaan limbah tahu, dengan diversifikasi produk sebagai usaha non emisi.
  2. Memberi pelatihan pada sasaran dalam hal ini Lingga Sari, untuk mengelola dan mengolah limbah cair tahu menjadi bahan diversifikasi nata de soya.
  3. Membantu meningkatkan standar pendapatan (ekonomi) masyarakat (produsen) dan melatih masyarakat secara langsung mengenai proses pembuatan Nata de Soya
  4. E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN

Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memberikan solusi tepat bagi perkembangan usaha tahu secara keseluruhan dan mampu memberdayakan pola pikir produsen tahu mengenai keutamaan diversifikasi produk sebagai upaya peningkatan pendapatan total dari usaha pembuatan tahu. Terapan teknologi ini diharapkan mampu menjadi pionir di Sumatera Selatan, khususnya disekitaran Inderalaya  baik bagi usaha pembuatan tahu atau usaha sejenis untuk memberdayakan usaha non emisi dengan peningkatan nilai ekonomis limbah tahu secara maksimal.

  1. F.   KEGUNAAN

Adapun kegunaan dari program kreatifitas mahasiswa pengabdian masyarakat ini meliputi :

  1. Bagi sasaran

Program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sasaran dalam mengupayakan diversivikasi produk limbah tahu dari sisi adopsi teknologi. Dan disisi ekonomi sebagai proses menuju peningkatan pendapatan dan nilai potensial usaha tahu secara berkelanjutan.

  1. Bagi Pemerintah

Program ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat khususnya dalam industri-industri kecil dan menengah. Dengan upaya ini, pemerintah diharapkan memberikan sumbangsih dan peranannya secara penuh melalui dukungan nyata bagi program-program sejenis.

  1. Bagi masyarakat

Dengan adanya program pengembangan usaha semacam ini, diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan peluang-peluang pada industri rumahan yang sejenis, dan membuka pola pikir masyarakat untuk berpikir kreatif terhadap kemungkinan-kemungkinan potensial.

  1. 1.    JADWAL KEGIATAN

Rangkaian kegiatan dijadwalkan selama 4 bulan seperti yang disajikan pada tabel berikut ;

No

Uraian Kegiatan

Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3 Bulan ke-4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
2 Pelaksanaan program
  • Pemberian sosialisasi UKM mengenai materi program pembuatan pengolahan limbah tahu.
  • Pelaksanaan praktik langsung pembuatan nata de soya
  • Pembiakan murni
  • Pembuatan starter
  • Fermentasi limbah tahu
  • Pemanenan dan pengolahan modifikasi nata de soya jahe
  • penutup
3 Evaluasi kegiatan (sebelum, saat berlangsung dan sesudah pelaksanaan program)
4 Pelaporan

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Program

#1st for the first…

bagaimana mengusung sebuah jati diri tanpa adanya pengorbanan

bagaimana merepih jalanan tanpa adanya pusaran debu

bagaimana menjadi indah tanpa adanya sentuhan raga

bagaimana menatap cinta tanpa adanya kuasa maha pencipta

bagaimana mengerti  hidup ini tanpa bercengkrama dengan kesombongan yang FANA…

 

sebagian prolog (#introducing hehhehe) yang memaksa ak yang akhirnya berniat untuk ngbuat catatan ini (diari, memori, uneg-uneg, self stories, whatever lah).

Menghabiskan waktu slm ini di kampus terkdang berkesan wasting time (sbenerny g juga), apa yg terserap mnjadi pertanyaan besar dr sekian banyknya aktvitas dan finansial (jiah, Doku mksudny) yg udh keluar.

sluuurrp…

dapet deh inspirasi manfaatin tknologi yg ada, tiga pertimbangan ngbuat blog ini

$ ngisi waktu buat kutak kutik gadget tnp Dosa

$ merefresh semua yg didapet, dgn posting disni

$ support go green, ngurangin make’ kertas 😀

yah it sbagian prolog (#resmi hahah)

lanjut ke isinya, ada banyak banget yang aku buat sebagai media pengingat ak atas selama ini yang mampu aku serap dalam hidup (materi kuliah, kehidupan, agama, hobby, percintaan, musik, kuliner,  fashion, apapun it) .. msalahnya karna ak new comer, jadi let it Flow ajalah (hihihi)